Teks Ceramah Idul Adha-ku

IDUL ADHA, SEBUAH UPAYA MERANGKAI INGATAN TENTANG PERAN PEREMPUAN DALAM PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA
Oleh : Zulfatun Ni’mah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Yang terhormat : Ketua STAIN Tulungagung
Yang kami hormati : para Pembantu Ketua dan seluruh pejabat akademik dan pejabat struktural
Yang mulia : para guru besar, dosen dan karyawan STAIN Tulungagung beserta keluarga
Yang kami hormati Ketua Darma Wanita Persatuan STAIN TA beserta pengurus dan anggota
Yang kami banggakan : para mahasiswa
dan seluruh tamu undangan yang berbahagia

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, yang telah kembali mengatur perjumpaan yang indah ini. Perjumpaan yang sengaja diselenggarakan sebagai bentuk syukur kita atas karunia Allah karena tahun 1432 ini kita semua masih diberi kesempatan bertemu Hari raya Idul Adha. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada para nabi dan rasul beserta istri, anak-anak dan sahabat, khususnya kepada Muhammad SAW yang secara konsisten mengajarkan persamaan derajat antar manusia.
Saya percaya, secara umum kita semua sudah sangat paham peristiwa apa yang merupakan awal dimulainya perintah berkurban yang diabadikan dalam perayaan Idul Adha, yakni sebuah peristiwa diperintahkannya Nabi Ibrahim menyembelih anak laki-lakinya, yakni Nabi ismail. Sebagai pengingat kita akan kisah tersebut, baiklah saya kutip dialog yang terjadi antara Ibrahim dan Ismail.
“Wahai anakku, saya melihat dalam tidur, bahwa saya diperintahkan menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Kita pun akan dengan penuh haru mendengar jawaban penuh keikhlasan dari Ismail AS: “Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku termasuk orang yang sabar.”
Sebuah dialog yang mengandung nilai spiritual yang sangat tinggi, yaitu ikhlas. Perayaan idul adha tidak lain adalah upaya untuk mengingatkan kita pelajaran ikhlas dalam tingkat yang paling tinggi yang diajarkan oleh Ismail dan Ibrahim tersebut. Ketika pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi penyembelihan dirinya, Allah membarter Ismail dengan seekor domba. Maka penyembelihan hewan-hewan tertentu yang rutin kita laksanakan setiap Idul Adha tidak lain merupakan bentuk napak tilas atas peristiwa bersejarah tersebut.
Bisa dikatakan, hampir pasti semua khutbah Idul Adha tidak luput menyebut nama kedua rasul Allah yang sangat ikhas tersebut dan mengulas sifat-sifat keteladanannya. Akan tetapi, entah disengaja atau karena reproduksi wacana yang kurang komprehensif, seorang tokoh yang tidak kalah penting perannya sering terlewatkan dalam pembahasan ini, atau kalaupun disebut tidak lebih dari sekedar peran figuran yang lewat selintas lalu. Tokoh itu adalah Siti Hajar, seorang perempuan penuh keteladanan yang merupakan istri Ibrahim AS sekaligus ibunda Ismail AS. Oleh karena itu, ijinkan saya dengan perspektif gender, mengajak kita menoleh lebih jauh lagi ke belakang, untuk mengingat dan mengambil pelajaran dari kisah idul adha dengan fokus pada sosok Siti Hajar.
Dikisahkan bahwa Hajar adalah budak berkulit hitam dari Ethiopia yang dihadiahkan oleh Raja Mesir untuk Sarah, istri Ibrahim AS. Pada saat itu, raja tersebut menginginkan Sarah karena terpukau oleh kecantikannya yang termasyhur. Raja berusaha menguasai tubuh Sarah untuk kepentingan hasratnya, akan tetapi Allah mengabulkan doa sarah untuk melindunginya dari kekejaman raja yang amat serakah. Saat itu Sarah telah berumahtangga dengan Ibrahim, akan tetapi demi keselamatan bersama Ibrahim mengatakan bahwa sarah adalah saudara perempuannya. Maksud Ibrahim adalah saudara seiman, karena pada waktu itu hanya mereka berdualah yang telah tersinari oleh cahaya iman. Sejak itu, Hajar menjadi budak milik keluarga Sarah dan tinggal bersama dengan mereka.
Pada suatu saat, Ibrahim dan Sarah yang sudah puluhan tahun berumah tangga, sampai pada puncak kerinduan akan hadirnya seorang anak yang belum juga terlahir dari perkawinan mereka. Menyadari usianya telah terlalu tua untuk bisa melahirkan, Sarah berinisiatif menjodohkan Ibrahim dengan Hajar. Berkata Sarah pada Ibrahim,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan aku untuk mendapatkan anak. Masuklah pada budakku ini, semoga Allah memberi rezki anak pada kita.”
Bagi perempuan, apa yang dilakukan Sarah bukanlah hal yang ringan. Berbagi suami secara fitrah adalah hal yang sangat tidak disukai. Akan tetapi, karena kesadaran atas kepentingan jangka panjang dan misi keagamaan Sarah mampu menyingkirkan rasa egoisme untuk menjadi satu-satunya perempuan di hati Ibrahim. Maka atas ijin Sarah, menikahlah Ibrahim dengan Hajar. Seandainya tanpa “izin” Sarah, Ibrahim tidak akan meminang Hajar untuk dijadikan sebagai isteri kedua. Poligami Ibrahim yang bertujuan untuk ikhtiar memperoleh keturunan pada awalnya adalah bagian dari pengorbanan Sarah yang rela memberikan suaminya demi harapan keturunan dari Hajar. Beberapa hal yang dapat diungkap di sini, misalnya mengenai poligami Ibrahim terhadap Sarah dan posisi Hajar di antara mereka. Banyak orang tidak menangkap pengorbanan Sarah hingga kemudian dianugerahi anak pada usia yang sudah sangat lanjut. Pada saat itu, laki-laki beristri lebih dari satu sesungguhnya bukan hal luar biasa, bahkan penguasa atau raja sangat lumrah memiliki ratusan istri. Akan tetapi, untuk Ibrahim, usulan Sarah adalah hal yang luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan tidak berpalingnya Ibrahim dari Sarah meskipun usia mereka telah sangat lanjut dan Sarah dinyatakan mandul. Lebih dari itu, pengorbanan Sarah juga memiliki nilai yang sangat mulia karena secara tidak langsung memberikan hak kemerdekaan kepada Hajar yang semula berstatus budak menjadi manusia merdeka.
Seperti yang mereka inginkan, beberapa lama kemudian Allah menghadirkan janin dalam kandungan Hajar. Namun, Hajar juga perempuan. Ia dapat mengerti perasaan Sarah yang hingga usia lanjut belum juga hamil, oleh karena itu ia berusaha menjaga perasaan Sarah dengan cara menyembunyikan kehamilannya. Dalam hal ini, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari mengabarkan bahwa Hajarlah perempuan yang memakai stagen demi menutupi kehamilannya itu.
Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walau bagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. (HR. Bukhari)

Diceritakan bahwa setelah kehadiran Ismail yang telah lama dinanti, Ibrahim menunjukkan kasih sayang yang begitu besar terhadap Ismail dan Hajar. Oleh mayoritas periwayat, hal ini memicu tumbuhnya rasa kurang nyaman di hati Sarah yang diidentifikasi sebagai cemburu. Perasaan ini membuat Sarah meminta kepada Ibrahim untuk menjauhkan Hajar dan anaknya dari pandangannya. Tentang kecemburuan Sarah terhadap Hajar ini, sebagian kalangan meragukannya, dengan alasan bahwa tidak mungkin hal itu terjadi bahwa Sarah sendirilah yang meminta Ibrahim menikahi Hajar. Terlepas dari benar tidaknya motif cemburu ini, dalam perspektif perempuan sebenarnya sangat wajar apabila perempuan, yang dipoligami dengan sadar sekalipun untuk merasa cemburu dengan kompetitior atau madunya.
Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir. Berhentilah mereka di suatu tempat yang berbukit-bukit, teramat tandus dan sepi. Tak ada manusia lain, tak ada pepohonan, tak ada pula binatang. Di situlah Ibrahim berpamitan kepada Hajar untuk kembali lagi kepada Sarah Palestina. Tak terperi bagaimana perasaan Hajar mendengar keputusan suaminya. Imam Bukhari meriwayatkan dialog yang terjadi dalam situasi tersebut. Dengan penuh keheranan, Hajar bertanya;
“Hendak kemanakah engkau suamiku? “Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini?”
Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Ia tetap melangkah meninggalkan istri dan anaknya. Hajar pun bertanya lagi;
“Hendak kemanakah engkau Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan aku dan anak bayimu di tengah padang tandus ini?”
Lagi-lagi tidak dijawab oleh Nabi Ibrahim. Siti Hajar kemudian bertanya sambil menangis: “Apakah ini perintah dari Allah?” Barulah Nabi Ibrahim menjawab;
“Ya. Kalau bukan karena perintah Allah, tidak mungkin aku sampai hati meninggalkan kalian berdua di sini”
Dan Siti Hajar pun diam, tak bertanya lagi, kemudian dengan ikhlas melepas suami meninggalkan dirinya dan anak bayinya tanpa siapa-siapa menemani kecuali keyakinan atas Ke-Maha-Kuasaan Allah. Hajar mundur tidak lagi mengikuti suaminya sambil membiarkannya pergi. Nabi Ibrahim tidak menoleh sekali pun ke belakang. Hingga pada batas jarak pandang yang terjauh, dan Hajar tidak lagi melihatnya, barulah Nabi Ibrahim berdoa:
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. Ibrahim 14: 37).
Tinggallah Hajar dan puteranya di tempat sunyi hanya berdua. Air yang ditinggalkan suaminya tidak mencukupi kebutuhan sehari hingga Hajar pun kehausan dan tentu anak laki-laki yang sedang menyusu itu pun tidak terkalahkan hausnya. Dalam kondisi demikian menguatlah naluri kemanusiaan sekaligus keibuannya, ia tidak tinggal diam dan meratapi takdirnya, tidak mengeluh dan tidak terpuruk dalam kesedihan, tetapi ia bergerak. Ia gerakkan seluruh potensinya, anggota badannya, akalnya, perasaannya megikuti naluri kemanusian yang paling tinggi, yaitu mempertahankan hidup. Bukan hanya hidupnya sendiri, melainkan ia utamakan menyelamatkan anaknya dari ancaman kematian dengan cara mencari kebutuhan dasar yaitu makanan dan minuman. Raungan tangis bayinya begitu menyayat hatinya, hati seorang ibu yang pernah mengandungnya, siang malam selama sembilan bulan membagi darah dan nafasnya, ibu yang pernah berperang melawan maut demi mengenalkan anaknya pada dunia, maka atas nama cinta kasih, atas nama kemanusiaan dan atas nama hidup ia gerakkan kakinya, mencari sumber makanan. Pada saat itulah, Allah sang Maha Penguji menciptakan fatamorgana, dalam pandangan Hajar ia melihat air yang jernih berkilauan dari jauh, ia kejar air itu tetapi sampai di sana bukan air yang didapati, tetapi gundukan bukit batu dan gurun pasir yang gersang, lalu ia kembali ke bukit asal tadi, kembali melihat fatamorgana, hingga tujuh kali pulang pergi Hajar berlari-lari, terengah-engah dalam terik yang menghauskan, ia terjatuh dalam keletihan dan sesaat setelah itu ia menyaksikan air jernih memancar dari jejakan kaki si mungil Ismail, berucaplah ia “Zam…zam” (berkumpullah..berkumpullah wahai air)
Dari penggalan cerita ini dapat kita tangkap dengan jelas bahwa Hajar telah membangun satu tonggak yang sangat monumental dalam upaya penegakan hak manusia yang paling dasar, yakni hak hidup. Untuk itu tidak berlebihan kiranya apabila kita sematkan padanya sebutan Hajar, sang pahlawan pejuang hak asasi manusia. Bahwa apa yang dilakukannya adalah serangkaian upaya kongkrit untuk seorang manusia kecil yang pada waktu itu terancam kematian karena tiadanya makanan dan minuman.
Allah begitu mengapresiasi atau menghargai perjuangan Hajar, maka disyariatkanlah lari-lari dari bukit Shafa ke Bukit marwah pulang pergi bagi setiap orang yang berhaji. Betapa napak tilas perjuangan Hajar dinilai begitu penting sampai-sampai jika itu ditinggalkan haji kita yang ongkosnya setara gaji PNS lima belas bulan dianggap NIHIL alias tidak sah.
Didikan penuh keikhlasan dan kepasrahan dari Hajar ini memberi pengaruh positif atas keikhlasan anak semata wayangnya, sehingga ia tidak keberatan menerima perintah Allah melalui ayah kandungnya sendiri untuk menyembelihnya. Bisa kita bayangkan seandainya Siti Hajar tetap merengek dan minta ditemani oleh Nabi Ibrahim AS, atau kalau beliau dengan penuh kejengkelan dan rasa frustrasi mendidik dan membesarkan anaknya Ismail dengan marah-marah dan membentak atau mencaci ketika ditinggal pergi oleh suami tercinta maka bisa jadi Ismail akan menjadi pribadi yang pemberang, pendendam dan pemarah lagi cengeng.

Bapak ibu yang saya hormati..
Pemilihan Allah terhadap Hajar untuk memerankan drama bersejarah yang kemudian diabadikan dalam ibadah haji dan kurban saya kira tidak sebatas kebetulan, melainkan memiliki maksud dan ajaran nilai moral yng sangat luhur. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah peradaban kemanusiaan, sebagian manusia memberlakukan standar hak dan kewajiban yang berbeda berdasarkan ras. Bahwa ras kulit putih dianggap lebih mulia dan hebat dibanding ras kulit berwarna, terutama hitam. Dengan dipilihnya Hajar untuk menjadi pemeran drama yang monumental ini maka saya berpendapat bahwa ada pesan Allah yang sangat universal, yakni bentuk dan jenis fisik badan manusia yang kita istilahkan dengan ras sama sekali bukanlah dasar penentuan kemuliaan manusia. Dengan indah Ali Syariati merumuskan pemilihan Allah atas Hajar,

Di antara semua manusia : seorang perempuan
Di antara semua perempuan : seorang budak
Di antara semua budak : seorang sahaya yang berkulit hitam.

Kepasrahan, ketabahan, dan kesabaran Hajar adalah cermin bahwa ‘harga’ pengorbanannya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu tidak akan terbeli. Bahkan hingga akhirnya dia harus rela melepas Ismail tatkala perintah qurban turun kepada Ibrahim. Kalau peristiwa penyembelihan Ismail oleh Ibrahim seringkali dinyatakan sebagai salah satu bentuk ketakwaan Ismail dan Ibrahim, maka apalah yang pantas disandangkan kepada Hajar saat itu? Lebih-lebih Hajar sendiri yang berpesan kepada Ibrahim untuk tidak lupa membawa pedang yang tajam dalam menyembelih Ismail, puteranya.
Siti Hajar merupakan pesan sempurna dari-Nya tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Juga suatu simbol persamaan martabat kemanusiaan tanpa memandang ras dan status sosial. Simbol ini juga sekaligus menandakan bahwa agama tauhid sejak dari awal pertumbuhannya mengutamakan persamaan ras dan status sosial serta kesetaraan antar jenis kelamin. Oleh karena itulah, sebagai penegasan terhadap pesan ini, Muhammad SAW pada haji terakhirnya berpidato
Kamu semua berasal dari Adam. Orang Arab tidak lebih mulia daripada non Arab. Yang paling mulia di antara kamu hanyalah yang paling bertakwa di sisi-Nya. Aku titip dua perkara yang jika engkau berpegang keduanya, pasti tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah (Alquran) dan sunnah Nabi.”
Ibadah kurban pada akhirnya memang disimbolkan melalui penyembelihan seekor hewan. Terlepas dari itu, seperti yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad, penyembelihan hewan bukanlah tujuan, tetapi menjadi simbol bagi perlawanan terhadap tradisi yang menindas. Misalnya tradisi pada zaman jahiliyah yang justru seringkali menjadikan perempuan sebagai korban, seperti mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan atas nama kemuliaan suku atau martabat seorang laki-laki, atau menjadikan perempuan sebagai pihak yang bisa diwariskan, atau dikendalikan kaum laki-laki. Menarik pendapat Ali Syari’ati bahwa pengorbanan diri manusia dan harkat kemanusiaannya memang tidak dibenarkan oleh Tuhan. Sebab, Nabi Ibrahim sendiri tampil untuk menegakkan martabat kemanusiaan itu sendiri. Tuhan Ibrahim itu bukan Tuhan yang haus akan darah manusia. Jadi, persepsi tentang Tuhan kemudian diralat, tidak sebagaimana tradisi masyarakat waktu itu, yang mengorbankan diri manusia untuk dipersembahkan dan diabdikan kepada Tuhan. Jadi, pesan ini juga dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus tradisi membunuh manusia demi “kepentingan Tuhan”. Membunuh manusia hanya dibenarkan dalam kerangka kemaslahatan kemanusiaan yang lebih besar. Artinya, kita tidak dibenarkan mengorbankan manusia lainnya dengan dalih yang manipulatif, sekalipun dengan klaim demi kepentingan Tuhan.
Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah melakukan perubahan besar-besaran terutama dalam memandang perempuan. Dari sejarah diketahui bahwa perempuan pada masa itu tidak dianggap sebagai manusia merdeka yang utuh, tetapi hanya sebagai makhluk pelengkap kebutuhan laki-laki yang bisa dipegang dan dicampakkan sesuka hati. Perempuan tidak dibolehkan keluar rumah, tetapi malah Nabi Muhammad mengorganisir perempuan untuk menikmati hak pendidikan dan hak sosial mereka. Di sini menjadi wajar dan masuk akal, jika ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di masa-masa awal (ayat Makkiyyah) lebih banyak mengandung ajaran protes sosial terhadap status quo (kemapanan) yang tidak adil dan menindas, termasuk menindas terhadap kaum perempuan. Pertanyaannya adalah apakah semangat Islam pada masa awal yaitu menghapus ketidakadilan dan diskriminasi dalam segala hal, termasuk terhadap perempuan, masih akan dihidupkan dan diperjuangkan? Sedang jargon yang ada adalah Islam agama antiketidakadilan dan antidiskriminasi!
Memetik pelajaran dari kisah di atas, saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk meningkatkan semangat penghormatan terhadap bagi kemanusiaan, baik dalam bentuk pikiran, perkataan dan perbuatan. Mari menghindari merasa sombong karena sifat-sifat bawaan lahir kita, seperti warna kulit, jenis kelamin, suku, asal daerah dan sejenisnya. Kalaupun Allah menjanjikan kemuliaan bagi yang paling bertakwa di antara kita, sesungguhnya kita tidak pernah tahu apakah kita di mata Allah sudah tergolong orang yang bertakwa kepada-Nya. Jika karena kita disiplin menjalankan ritual keagamaan lantas merasa lebih mulia daripada orang lain, dan merendahkan mereka, merasa tidak pantas menyapa mereka, itu artinya kita telah menjarah hak Allah, padahal sekali-kali Allah tidak akan pernah bisa dijarah.
Kepada para pemimpin penentu kebijakan, saya menggantungkan harapan agar kebijakan-kebijakan yang diambil mendukung upaya pemuliaan manusia dan meningkatkan upaya penegakan hak asasi manusia, termasuk hak asasi perempuan. Penyediaan ruang pemberian ASI di tempat kerja serta fasilitas pengasuhan balita dapat menjadi contoh kebijakan yang demikian, karena dapat meningkatkan kualitas manusia generasi masa depan, menyelamatkan para ibu dari ancaman kanker payudara serta memberi kesempatan para ibu untuk bekerja sesuai dengan keahliannya. Demikian juga menyediakan tempat ibadah yang dapat diakses laki-laki dan perempuan dengan nilai kenyamanan yang setara adalah bentuk penghormatan teradap hak asasi manusia dalam hal kebebasan melaksanakan ibadah.
Khusus kepada kaum perempuan, marilah kita mengambil teladan dari figur-figur mulia yang telah ditampilkan Allah dalam pentas sejarah Idul Adha. Pada saat sekarang, kita telah banyak disesatkan oleh figur-figur buatan kelompok yang sama sekali tidak menghendaki tegaknya nilai-nilai kemanusiaan, melainkan justru sengaja mengikisnya agar nilai kita tidak lebih terhormat dari binatang atau harta benda. Sudah cukup lama kita dicitrakan sebagai makhluk yang lemah, cengeng, penggoda iman laki-laki, bodoh, tidak bisa berfikir rasional, tidak bisa bersikap tegas, tidak punya kemandirian, identik dengan hobi bergunjing dan adu domba, iri dengki, mudah panas oleh rejeki orang lain, kreatif menciptakan fitnah dan sederet citra buruk lainnya.
Islam meyakini setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa. Berpijak dari ajaran ini, sangat tidak mustahil semua citra buruk yang disematkan kepada kita akan sirna jika kita konsisten melawan pencitraan buruk itu. Mari menjadikan Bunda Hajar yang pekerja keras, pendidik budi pekerti luhur, tegar, tabah, mandiri, beriman sebagai inspirasi dan semangat perlawanan terhadap upaya-upaya yang mendiskreditkan perempuan.
Mari kita luruskan kiblat kita dari kiblat-kiblat yang sengaja diciptakan untuk menjauhkan perempuan dari ajaran kebajikan. Melawan mereka adalah upaya kongkrit mengembalikan jati diri muslimah sejati. Matikan televisi ketika menayangkan siaran yang mengajari perempuan menjadi cengeng, bergunjing, senang mengeksploitasi harta suami, bangga megeksploitasi tubuhnya dan malas bekerja.
Demikian paparan yang bisa saya sampaikan Ibu dan Bapak serta Saudara sekalian yang saya hormati. Mudah-mudahan bisa jadi renungan dan inspirasi kita untuk senantiasa beramal saleh. Saya berterima kasih kepada Pimpinan atas kesempatan mendapatkan pengalaman berharga ini, terima kasih juga kepada seluruh tamu undangan atas perkenannya menyimak paparan ini. Mohon maaf atas segala kata dan sikap yang kurang berkenan.
Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thariq
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s